A letter to Kia
Kia,
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan yang tumbuh begitu saja sejak kita bertemu.
Aku hanya tahu, bersamamu, aku tidak pernah merasa harus menjadi seseorang yang lain.
Aku menyukai caramu tertawa, caramu bercerita, caramu menemukan kebahagiaan dari sesuatu yang sederhana. Aku menyukai semua hal kecil yang mungkin bahkan tidak kamu sadari.
Dan semakin aku mengenalmu, semakin aku mengerti bahwa aku tidak ingin hanya hadir ketika duniamu sedang baik-baik saja.
Aku ingin belajar memahami hari-hari sulitmu. Mendengarkan apa yang ingin kamu ceritakan. Menghargai hal-hal yang belum mampu kamu ungkapkan.
Aku ingin menjadi tempatmu pulang — bukan hanya saat hari-harimu berat, tapi juga pada hari-hari yang biasa saja. Aku ingin kamu merasa aman untuk berhenti berpura-pura, bahkan untuk tidak berkata apa-apa.
Aku tidak bisa berjanji bahwa aku tidak akan pernah melakukan kesalahan. Tetapi aku ingin menjadi seseorang yang mau mengakui kesalahannya, memperbaikinya, dan tidak berhenti belajar untuk mencintaimu dengan lebih baik.
Aku mungkin belum memiliki segala hal yang bisa kuberikan kepadamu. Namun aku ingin membangun sesuatu yang nyata. Bukan hanya tentang hari ini, tetapi juga tentang hari-hari yang belum kita ketahui.
Aku percaya, cinta tidak berhenti di masa-masa indah. Cinta adalah caraku berdiri di sampingmu ketika semuanya terasa sulit, dan tetap memilihmu pada hari-hari ketika memilih butuh usaha lebih.
Dan jika suatu hari dunia membuatmu meragukan betapa berharganya dirimu, aku berharap kamu selalu ingat bahwa ada seseorang yang melihatmu sebagai anugerah yang tak ingin ia sia-siakan.
Terima kasih untuk setiap hal kecil yang kamu berikan — untuk caramu tersenyum, caramu menjaga, caramu membuat hari biasa terasa seperti sesuatu yang layak diingat. Aku tidak akan pernah menganggapnya sepele.
Aku tidak tahu seluruh cerita yang akan kita jalani. Tapi aku ingin terus mengenalmu, bahkan ketika kita telah melewati begitu banyak tahun bersama.
Suatu hari nanti, ketika kita memandang ke belakang, aku ingin kita tersenyum bukan karena semuanya sempurna — melainkan karena kita tidak pernah berhenti belajar untuk saling memahami.
Dengan segala yang kita miliki dan segala yang masih perlu kita pelajari, aku memilihmu.
— Raihan











