Prologue — Before There Was Us

Ajikia&Raihan

We weren't looking for love. And perhaps, that was when love found us.

Ada masa ketika hati memilih untuk tidak mengharapkan apa-apa lagi. Bukan karena tak lagi percaya pada cinta — mungkin hanya karena keduanya sudah terlalu lama berjalan bersama cerita masing-masing.

gulir perlahan

SCENE 01 · The Question

The Night That Almost Never Happened

Tidak ada yang mencari seseorang. Tidak ada rencana tentang sebuah hubungan. Barangkali keduanya sudah terlalu lama berjalan bersama cerita masing-masing.

Namun Tuhan memiliki cara-Nya sendiri untuk mempertemukan dua manusia. Dan terkadang, sesuatu yang paling berarti justru datang ketika kita sama sekali tidak menunggunya.

tinggal di rumahataukeluar ke malam

SCENE 02 · Before Hello

A Glance, Before Hello

Jauh sebelum 21 Oktober, mereka pernah berada di ruangan yang sama — dua orang asing, tanpa satu kata pun. Bahkan tanpa tahu bahwa malam yang mengubah segalanya sudah dekat.

Saat pertemuan berikutnya, Kia tidak mengenali Raihan. Tapi Raihan, entah bagaimana, mengenali dia.

Dua siluet jauh di ruangan yang sama, belum saling berkenal
Placeholder konsep — satu ruang, dua asing

SCENE 03 · The Convergence

21

OKTOBER

dua garis yang berjalan sendiri, bertemu di satu titik

Dua cangkir di atas meja kayu hangat, tangan di tepi bingkai
Placeholder konsep — 21 Oktober

Malam itu, Rey melangkah keluar. Dan tanpa seorang pun yang tahu, dua garis yang berjalan sendiri-sendiri mulai melengkung menuju satu titik yang sama.

Mereka duduk di atas bangku cokelat itu, berbicara — dan entah bagaimana, percakapan itu tidak ingin berhenti.

“An ordinary evening. An extraordinary beginning.”

SCENE 04 · The Second Day

No Masks, Just Us

Mereka mulai sering menghabiskan waktu bersama. Tidak ada karakter yang dijaga, tidak ada citra yang dibawakan — cukup dua orang yang, untuk pertama kalinya, merasa tidak perlu menjadi seseorang yang lain.

“Aku hanya tahu, bersamamu, aku tidak pernah merasa harus menjadi seseorang yang lain.”

Meja kayu dengan dua gelas dan piring, lampu Interaksi menyala di balik jendela yang basah hujan
Berdua di depan cermin, salah satu foto asli pertama kalian

Dokumentasi asli

Berdua, di depan cermin — seperti inilah kami, tanpa niat apa pun.

SCENE 05 · The Days That Followed

The Days That Belonged to Us

Hari-hari setelahnya berjalan pelan tapi penuh: kembali ke tempat yang sama, berkelana entah ke mana, makan bareng, masak bareng — hal-hal sederhana yang tiba-tiba menjadi hal-hal yang paling ingin kuingat.

Beberapa strip photobooth dipegang di depan lantai mal
The archive — quiet days
Strip photobooth CCM asli, empat frame hitam-putih berdua
Photobooth CCM
Berdua di dapur rumah, baskom hijau dan sayuran di atas meja
Cooking together
Berdua di atas motor, tercermin di cermin jalan bundar pada malam hari
Night ride
Berdua dengan topi lebar di depan cermin, malam yang ribut
Masks on
The bookstore

SCENE 06 · The Beautiful Mess

A Beautiful Mess of Ours

Dapur itu berantakan dengan cara yang paling benar — satu memotong, satu menggoreng, dan tak ada satupun yang berjalan sesuai resep. Justru di sanalah ceritanya menempel.

Motor yang tidak layak, jalan hujan-hujanan, sampai datang ke photobooth dalam keadaan basah kuyup. Dan entah bagaimana, tawa selalu lebih keras dari rintik hujan.

“Not every moment was perfect. But every moment became ours.”

Berdua di dapur rumah, baskom hijau dan sayuran di atas meja
Berdua di atas motor, tercermin di cermin jalan bundar pada malam hari
Strip photobooth CCM asli, empat frame hitam-putih berdua
basah kuyup, tawa tetap keras
Berdua di atas motor, tercermin di cermin bundar jalan — sebuah bingkai menuju kenangan

SCENE 07 · The Portal

Stepping Into the Frame

Kamera mendekat pada satu bingkai foto. Bingkai itu menjadi jendela. Jendela itu menjadi seluruh layar.

lanjutkan menggulir untuk masuk

Satu detail bertemu dengan detail berikutnya — dan kenangan terus bergerak maju.

Kia berdiri di antara rak boneka, wajah jelas dan tenang
potret asli Kia

SCENE 08 · Her, In All Her Ways

Every Way She Is

Aku menyukai caramu tersenyum. Caramu melihat dunia. Caramu menemukan kebahagiaan dari hal-hal yang mungkin terlihat sederhana bagi orang lain.

Tapi aku tidak hanya ingin mengenalmu dalam tawa. Aku ingin mengenalmu ketika harimu sedang tidak baik — ketika kamu memilih diam, ketika hal-hal kecil membuatmu kesal, bahkan ketika kamu sendiri sulit menjelaskan apa yang sedang kamu rasakan.

Karena bagiku, mencintaimu bukan tentang memilih bagian-bagian terbaik dari dirimu. Melainkan tentang belajar menerima dirimu secara utuh.

Ditulis dari sudut pandang Raihan. Kata-kata Kia sendiri menunggu bab Through Her Eyes.

SCENE 09 · The Person I Want to Become

The Person I Want to Become

Aku tidak bisa berjanji bahwa aku tidak akan pernah melakukan kesalahan. Tetapi aku ingin menjadi seseorang yang mau mengakui kesalahannya, memperbaikinya, dan tidak berhenti belajar untuk mencintaimu dengan lebih baik.

Aku lebih takut menyakiti dia daripada kehilangan dia.

“I cannot promise a life without difficult days. I can promise to keep learning how to face them with you.”

Cahaya lembut jatuh ke lantai ruang gelap yang hening
Placeholder konsep — atmosfer doa

SCENE 10 · A Prayer, Kept Quietly

A Prayer I Never Said Aloud

Tuhan, aku mungkin belum sepenuhnya mengenal siapa dirinya. Aku belum mengetahui seluruh cerita yang membentuknya menjadi perempuan yang kukenal hari ini.

Namun, apa pun yang pernah ia lalui — kebahagiaan maupun kesedihan yang mungkin tak pernah ia ceritakan — izinkan aku menjadi seseorang yang mampu menjaganya dengan baik.

Bimbing aku untuk menjadi laki-laki yang pantas mendampinginya. Yang mampu menuntunnya tanpa merasa lebih tinggi darinya. Yang mampu mendengarkan, memahami, dan tetap memilihnya, bahkan pada hari-hari yang tidak mudah.

Dan jika Engkau mengizinkan, jadikan aku rumah yang membuatnya merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.

SCENE 11 · We Chose Us

29 OKTOBER

Delapan hari setelah malam itu, tanpa rencana besar, mereka memilih: ini kita.

Bukan tanggal pernikahan. Hanya tanggal ketika 'kita' mulai dipilih — dan terus dipilih, setiap hari.

“It began without a plan. And became a choice we keep making.”

SCENE 12 · Unwritten

The Pages We Haven't Written Yet

Karier yang dibangun bersama. Rumah yang hangat. Keluarga yang harmonis. Anak-anak, jika hidup mengizinkan.

Tidak ada yang dijanjikan sudah jadi. Semua masih berupa harapan — dan kami menulisnya pelan-pelan, bersama.

karierrumahkeluarga…

A letter to Kia

Kia,

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan yang tumbuh begitu saja sejak kita bertemu.

Aku hanya tahu, bersamamu, aku tidak pernah merasa harus menjadi seseorang yang lain.

Aku menyukai caramu tertawa, caramu bercerita, caramu menemukan kebahagiaan dari sesuatu yang sederhana. Aku menyukai semua hal kecil yang mungkin bahkan tidak kamu sadari.

Dan semakin aku mengenalmu, semakin aku mengerti bahwa aku tidak ingin hanya hadir ketika duniamu sedang baik-baik saja.

Aku ingin belajar memahami hari-hari sulitmu. Mendengarkan apa yang ingin kamu ceritakan. Menghargai hal-hal yang belum mampu kamu ungkapkan.

Aku ingin menjadi tempatmu pulang — bukan hanya saat hari-harimu berat, tapi juga pada hari-hari yang biasa saja. Aku ingin kamu merasa aman untuk berhenti berpura-pura, bahkan untuk tidak berkata apa-apa.

Aku tidak bisa berjanji bahwa aku tidak akan pernah melakukan kesalahan. Tetapi aku ingin menjadi seseorang yang mau mengakui kesalahannya, memperbaikinya, dan tidak berhenti belajar untuk mencintaimu dengan lebih baik.

Aku mungkin belum memiliki segala hal yang bisa kuberikan kepadamu. Namun aku ingin membangun sesuatu yang nyata. Bukan hanya tentang hari ini, tetapi juga tentang hari-hari yang belum kita ketahui.

Aku percaya, cinta tidak berhenti di masa-masa indah. Cinta adalah caraku berdiri di sampingmu ketika semuanya terasa sulit, dan tetap memilihmu pada hari-hari ketika memilih butuh usaha lebih.

Dan jika suatu hari dunia membuatmu meragukan betapa berharganya dirimu, aku berharap kamu selalu ingat bahwa ada seseorang yang melihatmu sebagai anugerah yang tak ingin ia sia-siakan.

Terima kasih untuk setiap hal kecil yang kamu berikan — untuk caramu tersenyum, caramu menjaga, caramu membuat hari biasa terasa seperti sesuatu yang layak diingat. Aku tidak akan pernah menganggapnya sepele.

Aku tidak tahu seluruh cerita yang akan kita jalani. Tapi aku ingin terus mengenalmu, bahkan ketika kita telah melewati begitu banyak tahun bersama.

Suatu hari nanti, ketika kita memandang ke belakang, aku ingin kita tersenyum bukan karena semuanya sempurna — melainkan karena kita tidak pernah berhenti belajar untuk saling memahami.

Dengan segala yang kita miliki dan segala yang masih perlu kita pelajari, aku memilihmu.

— Raihan

Dua siluet berjalan bersama menuju cahaya senja
Slot asli — foto/video penutup

SCENE 13 · Still Being Written

Ajikia Marwah & Raihan Eka Saputra

The story is still being written.

Ajikia Marwah · Raihan Eka Saputra

Detail hari pernikahan (tanggal, lokasi, RSVP) akan ditambahkan hanya setelah dikonfirmasi.